Ini Teknik Propaganda yang banyak digunakan Caleg di Pileg 2019

Everistus Kayep dan Elly Sarauw di Agats.@Dok Pribadi

Everistus Kayep — Propaganda secara umum dapat diartikan sebagai upaya mempengaruhi opini publik atau pendapat umum dengan menggunakan kata-kata lisan, tulisan dan media visual untuk mengubah sikap, kepercayaan atau perilaku masyarakat.

Saat Pemilu, teknik propaganda digunakan oleh Partai Politik dan Para Caleg untuk mempengaruhi alam pikir rakyat pemilih, memanipulasi kesadaran mereka agar akhirnya bisa memberikan suara. Target akhir adalah kemenangan Parpol dan Caleg, lepas dari apakah berbagai jargon politik mereka bisa ditepati atau tidak.

Ada 7 teknik propanda yang lazim digunakan, yaitu Name Calling (Penjulukan), Glittering Generalities (Iming-iming), Testimony (Kesaksian), Plain Folks (Merakyat), Card Staking (Menumpuk Kartu), Bandwagon (Gerobak Musik) dan Transfer.

Secara khusus kita akan mengulas Teknik Transfer karena teknik inilah yang paling banyak digunakan oleh Para Caleg di Papua pada Pemilu Legislatif 2019 ini.

Teknik Transfer adalah teknik propaganda yang memanfaatkan pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berkharisma dimana Sang Caleg mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh tersebut.

Teknik Transfer dimaksudkan untuk mempengaruhi alam pikir rakyat pemilih agar tercipta sebuah opini bahwa memilih Si Caleg A sama saja memilih Tokoh A.

Teknik Transfer paling banyak menggunakan media Visual seperti Stiker dan Baliho dimana Sang Caleg digambarkan sebagai sedang di-back-up oleh tokoh tertentu.

Dengan menggunakan Teknik Transfer ini Sang Caleg telah, meminjam kata-kata Tokoh Papua Selatan John Gluba Gebze, ‘menumpang di perahu ketenaran orang’.

Contoh kasusnya, saat ini kita dengan mudah bisa menjumpai berbagai Stiker dan Baliho Caleg berlatar tokoh Nasional seperti Joko Widodo, Surya Paloh, Prabowo Subianto, bahkan beberapa tokoh lokal di Papua.

Propaganda menggunakan Teknik Transfer terbukti tidak efektif dan dalam banyak kasus lebih pantas disebut sebagai penipuan terang-terangan terhadap rakyat yang polos.

Kasus Boven Digoel bisa menjadi salah satu bukti. Pada Pilkada 2015 lalu, Pasangan Calon BENAR (Benediktus Tambonop – Chaerul Anwar) ‘menumpang di perahu ketenaran’ Joko Widodo. Rakyat terhipnotis dan tanpa berpikir matang, secara gegabah memenangkan pasangan yang ‘didukung’ Jokowi tersebut.

Rakyat berpikir, Boven Digoel akan disulap seperti Jokowi menyulap Solo dan DKI Jakarta. Hasilnya saat ini? Hanya caci-maki, umpatan, kutukan dan sumpah serapah yang bisa keluar dari mulut rakyat kepada pasangan yang telah mereka pilih.

Kita lihat kasus lain, Merauke. Pada Pilkada 2015 lalu, Pasangan FRESS (Frederikus Gebze – Soelarso) ‘menumpang di perahu ketenaran’ John Gluba Gebze.

Rakyat pemilih di Merauke terhipnotis dan menjatuhkan pilihan kepada pasangan FRESS.

Rakyat berpikir, Merauke yang redup selama 5 tahun kepemimpinan Romanus Mbaraka akan kembali bersinar seperti 10 tahun dipimpin John Gluba Gebze.

Hasilnya saat ini? Hanya caci-maki, umpatan, kutukan dan sumpah serapah yang bisa keluar dari mulut rakyat Merauke kepada pasangan FRESS yang bisa kita dengar dari Kondo sampai Digul dan baca di berbagai status Facebook.

Pertanyaannya saat ini adalah : Bagaimana cara bertahan dan melindungi diri dari Teknik Propaganda Transfer?

Jawabannya : Mari belajar dari pengalaman. []

Iklan

Satu pemikiran pada “Ini Teknik Propaganda yang banyak digunakan Caleg di Pileg 2019

  1. Ping balik: Tipu : Jokowi Tidak Akan Jadi Presiden Kalau Tidak Pilih Caleg Parpol Tertentu – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s